Aku berlari ke samping gedung, menghindarimu yang tak
lelah mengejarku. Kali ini aku mampu menghindar bertemu denganmu, entah besok
apakah aku akan bisa mengindarimu. Kau lelaki yang aku kenal sejak pertama kali
menginjakan kaki di kampus ini.
“ Hai manis, kenalkan namaku Sony, siapa namamu? Pulang
bareng, yuk!”
Sebaris kalimat yang kau ucapkan, memberi tanda bahwa kau
seorang perayu dan pemberani. Pertama kali bertemu, kau langsung mengajak
pulang bareng dan memujiku, tentu saja itu adalah ajakan dan pujian pertama
dari seorang laki-laki buatku. Pipiku merona, tersipu malu, tertunduk, dan
memberikan senyuman yang di kulum, “namaku Indah,” jawabku.
Kemudian hari-hariku diisi hadirnya dirimu, aku tak kuasa
dengan serbuan kata-kata darimu. Siapa yang tak akan luluh dengan kata-kata
puitis yang tiap hari kau kirimkan, siapa yang tak bahagia dengan sikap
romantismu, siapa yang tak terenyuh dengan perjuanganmu yang pantang menyerah,
setelah beberapa kali aku tolak.
“Aku tidak mau pacaran sebelum lulus kuliah.” Aku
memberikan alasan.
“It’s oke. Aku akan setia menunggu sampai hari itu tiba.
Tapi ijinkan aku menemanimu, waktu seakan melambat kalau aku tidak bertemu
kamu.” Lagi kau lontarkan rayuan.
Pada hari wisuda tiba, kau menjadi mahasiswa terbaik dan
diberi kesempatan menyampaikan pidato. Hingga terdengar ….
“Dan untuk wanita yang berparas indah, seorang wanita
yang telah mengambil separuh hati sejak pandangan pertama, yang telah mengisi
hari-hariku dengan pelangi, untukmu … Indah Permatasari, maukah kau menikah
denganku?”
Tak ayal lagi, tepuk tangan, riuhnya suara di gedung, dan
suitan tak terhindar, semua mata tertuju padaku. Kau turun dari podium menuju
ke arahku, aku berdiri dengan gemetar berjalan pelan menujumu, lalu salah satu
temanmu memberikan bunga padamu, dengan jarak dekat kau berikan bunga untukku
dan berkata,
“ini adalah perjuangan terakhirku mendapatkanmu, jangan
biarkan aku sekarat lagi karena merindukanmu, ijinkan aku menjadi imammu, aku
ingin kau menjadi bidadari yang selalu ada di sampingku, menjadi seorang ibu
untuk anak-anakku kelak.”
Melting …
Ini lamaran yang tak pernah terbayangkan sama sekali,
sungguh bagiku itu adalah lamaran paling romantis. Disaksikan ratusan wisudawan
dan para dosen serta rektor, membuat aku salah tingkah, rasa bahagia, malu, dan
terharu bercampur aduk, aku hanya bisa menetesakan air mata kebahagiaan dan
anggukan.
Kejadian itu sudah terlewati enam tahun, tapi aku masih
merasakannya seakan itu terjadi kemarin setiap moment masih terekam dengan
baik.
Kekasih … aku masih bisa merangkum dalam ingatan
kebersamaan kita dulu. Masih tertulis dengan jelas di hati janji-janjimu, aku
percayakan hidupku padamu, tak pernah terbersit sedikitpun kau akan
mengingkari.
Kekasih … aku bukan lah anak yang berusia belasan tahun.
Aku tahu binar matamu ketika kau memandang benda pipihmu. Entah dengan siapa
kau berbicara, tapi belakangan ini kau begitu betah berlama-lama dengan ponsel
pintarmu.
Kekasih … mengapa kau sering pulang larut malam, apakah
kau bekerja di garmen yang dikejar pesanan, bukan ... kau adalah tenaga
pengajar, tidak mungkin ada mahasiswa yang bimbingan sampai tengah malam.
Kekasih … mengapa sering kau lupakan janji, rambutmu
belum beruban, kau tidak mengalami alzeimer … kau belum setua itu.
Kekasih … apakah diriku masih tetap tinggal dengan kokoh
di hatimu? Apakah diriku masih menjadi prioritas utama dalam hidupmu? Apakah
keberadaan diriku masih mempunyai arti? Apakah kau masih mencintaiku?
oleh Neng Sri
No comments:
Post a Comment