Source Code

WEB, DESKTOP, MOBILE, Mata Kuliah, Ebook, Artikel, Jurnal Teknologi Informasi, Inspirasi , Motivasi, Literasi, Seputar Islam dan Cerita Lucu

Gambar Koala

Wednesday, 20 November 2019

Kekasih #Part-1

Aku berlari ke samping gedung, menghindarimu yang tak lelah mengejarku. Kali ini aku mampu menghindar bertemu denganmu, entah besok apakah aku akan bisa mengindarimu. Kau lelaki yang aku kenal sejak pertama kali menginjakan kaki di kampus ini.

cerbung,literasi,cerpen,roman,kekasih,cerita

“ Hai manis, kenalkan namaku Sony, siapa namamu? Pulang bareng, yuk!”
Sebaris kalimat yang kau ucapkan, memberi tanda bahwa kau seorang perayu dan pemberani. Pertama kali bertemu, kau langsung mengajak pulang bareng dan memujiku, tentu saja itu adalah ajakan dan pujian pertama dari seorang laki-laki buatku. Pipiku merona, tersipu malu, tertunduk, dan memberikan senyuman yang di kulum, “namaku Indah,” jawabku.

Kemudian hari-hariku diisi hadirnya dirimu, aku tak kuasa dengan serbuan kata-kata darimu. Siapa yang tak akan luluh dengan kata-kata puitis yang tiap hari kau kirimkan, siapa yang tak bahagia dengan sikap romantismu, siapa yang tak terenyuh dengan perjuanganmu yang pantang menyerah, setelah beberapa kali aku tolak.

“Aku tidak mau pacaran sebelum lulus kuliah.” Aku memberikan alasan.

“It’s oke. Aku akan setia menunggu sampai hari itu tiba. Tapi ijinkan aku menemanimu, waktu seakan melambat kalau aku tidak bertemu kamu.” Lagi kau lontarkan rayuan.
Pada hari wisuda tiba, kau menjadi mahasiswa terbaik dan diberi kesempatan menyampaikan pidato. Hingga terdengar ….

“Dan untuk wanita yang berparas indah, seorang wanita yang telah mengambil separuh hati sejak pandangan pertama, yang telah mengisi hari-hariku dengan pelangi, untukmu … Indah Permatasari, maukah kau menikah denganku?”

Tak ayal lagi, tepuk tangan, riuhnya suara di gedung, dan suitan tak terhindar, semua mata tertuju padaku. Kau turun dari podium menuju ke arahku, aku berdiri dengan gemetar berjalan pelan menujumu, lalu salah satu temanmu memberikan bunga padamu, dengan jarak dekat kau berikan bunga untukku dan berkata,

“ini adalah perjuangan terakhirku mendapatkanmu, jangan biarkan aku sekarat lagi karena merindukanmu, ijinkan aku menjadi imammu, aku ingin kau menjadi bidadari yang selalu ada di sampingku, menjadi seorang ibu untuk anak-anakku kelak.”

Melting …
Ini lamaran yang tak pernah terbayangkan sama sekali, sungguh bagiku itu adalah lamaran paling romantis. Disaksikan ratusan wisudawan dan para dosen serta rektor, membuat aku salah tingkah, rasa bahagia, malu, dan terharu bercampur aduk, aku hanya bisa menetesakan air mata kebahagiaan dan anggukan.

Kejadian itu sudah terlewati enam tahun, tapi aku masih merasakannya seakan itu terjadi kemarin setiap moment masih terekam dengan baik.

Kekasih … aku masih bisa merangkum dalam ingatan kebersamaan kita dulu. Masih tertulis dengan jelas di hati janji-janjimu, aku percayakan hidupku padamu, tak pernah terbersit sedikitpun kau akan mengingkari.


Kekasih … aku bukan lah anak yang berusia belasan tahun. Aku tahu binar matamu ketika kau memandang benda pipihmu. Entah dengan siapa kau berbicara, tapi belakangan ini kau begitu betah berlama-lama dengan ponsel pintarmu.

Kekasih … mengapa kau sering pulang larut malam, apakah kau bekerja di garmen yang dikejar pesanan, bukan ... kau adalah tenaga pengajar, tidak mungkin ada mahasiswa yang bimbingan sampai tengah malam.

Kekasih … mengapa sering kau lupakan janji, rambutmu belum beruban, kau tidak mengalami alzeimer …  kau belum setua itu.

Kekasih … apakah diriku masih tetap tinggal dengan kokoh di hatimu? Apakah diriku masih menjadi prioritas utama dalam hidupmu? Apakah keberadaan diriku masih mempunyai arti? Apakah kau masih mencintaiku?



oleh Neng Sri

No comments:

Post a Comment